Semenjak terkena penyakit gatal-gatal beberapa waktu yang lalu, saya memutuskan untuk pergi ke salah satu dokter kulit yang cukup terkenal yang ada di bilangan Jakarta Selatan dekat rumah saya. Hasil diagnose menunjukan bahwa kemungkinan saya terkena alergi akibat adanya binatang berbulu aka kucing. Dan kadar kesensitifan kulit menunjukan kadar membahayakan, plus karena saya terlalu kurus (okay models, be careful) dan saya bukan tipe orang yang doyan air putih dan sayuran, saya tidak diperbolehkan untuk memakai sabun kesehatan sebangsa dettol, lifeboy karena semua produk itu membawa lari lapisan lemak yang tinggal sedikit yang ada di kulit saya (bayangin aja udah kurus, lemak ga ada, kesapu lagi tiap mandi sama sabun…halah).
Jadi dokter saya menyarankan begini, kalau bisa kamu pakai sabun bayi saja, oilum atau dove karena mousturizernya banyak (bukan promosi).
Memutuskan untuk mengikuti saran Bu Dokter, saya pergi ke toko and beli Dove. Jadi masalah kulit saya amanlah.
Kemudian beberapa hari yang lalu saya chat ama temen, dan dia bilang gini…
“eh udah tau belum? Greenpeace lagi bikin campaign against unilever loh, karena salah satu produknya memakai bahan Palm Oil, yang mana penggunaan bahan tersebut, juga turut ambil serta dalam penggundulan hutan dan menghilangkan habitat orangutan”
Penasaran, gw buka lah website Greenpeace, dan tau ga produk apa yang menghabiskan sebagian besar hutan Indonesia dan menghilangkan habitat orangutan?
DOVE
(saya ga bisa komentar apa2 lagi)
Ini list penyebabnya:
(sumber: www. Greenpeace.org) – btw berhubung lagi shock and bahan translate banyak, terjemahkan sendiri ya….
Greenpeace on campaign against dove – unilever
Points you could make:
- Indonesia is losing its forest faster then anywhere else on Earth, driving species like orang-utans to extinction.
- Due to the destruction of rainforests and peatlands, Indonesia is currently the 3rd biggest greenhouse gas polluter in the world (behind only USA and China). And palm oil plantations are causing much of the deforestation.
- Unilever is one of the world’s biggest users of Indonesian palm oil for many of its products. About half of Unilever’s palm oil supply comes from Indonesia. As recently as 2005, Unilever purchased 1 in every 20 tonnes of palm oil produced in the country.
- Indonesian palm oil is used in products like Dove, Knorr, Walls, Ola, Persil, Omo, Surf, Flora and Becel.
- Demand for palm oil is forecast to grow quickly. According to the UN 98 percent of Indonesia’s lowland forest will be destroyed by 2022 if trends continue.
- Unilever has failed to take any effective action to ensure its palm oil is sourced from sustainable sources. It also heads the Round Table on Sustainable Palm Oil (RSPO) which has overseen the situation continue to get worse.
- Unilever, as a major buyer of palm oil, and leader of the RSPO, is in a unique position to help save Indonesia’s rainforests.
- At the moment the RSPO is little more than a greenwashing operation because RSPO members continue to be involved in the destruction of Indonesia’s rainforests
- Greenpeace investigations show that it is Unilever’s own palm oil traders and producers (themselves RSPO members) who are leading ‘aggressive expansion’ of the sector that results in the devastation of the last remaining orang-utan rainforest and peatland habitat in Borneo.
Bicara tentang climate change, deforestation kan salah satu bagian dan kesepakatan dari konferensi dunia mengenai climate change… (CoP 13, Bali Road Map…Desember 2007? Inget kan) saya jadi teringat pada salah satu hal yang lain, climate change membuat hampir seluruh dunia berlomba – lomba untuk mencari bahan bakar alternatif, atau sumber daya alternatif. Tetapi ketika hari ini saya membaca National Geographic edisi khusus, hal. 55 dengan judul Ekosistem: Sistem Rapuh yang Menyokong Kita, ada satu bagian yang menarik perhatian saya….
“Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam: Kawasan Ekosistem Leuser seluas 2,5 juta hektare menjadi habitat orangutan, gajah, harimau dan badak sumatra. Setelah sebelumnya sempat menjadi kawasan tak terjamah sebagai akibat konflik, kini Aceh telah terbuka usai kesepakatan damai Tahun 2005. Ancaman terhadap kawasan hutan, diantaranya pembangunan jalan baru dan pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit sebagai RESPON TERHADAP PERMINTAAN PRODUSEN BIODIESEL DI EROPA”
Note bagian yang saya miringkan, tebalkan dan kemudian saya besarkan?
Dilema ya semuanya?
Kalau begitu apa lebih baik Aceh tetap tertutup? Negara maju mulai teriak-teriak terhadap negara berkembang untuk mengurangi pembalakan hutan, dan perusakan lingkungan lainnya, di lain pihak negara berkembang membabat habis hutannya bukannya karena kurva permintaan negara maju yang semakin tinggi? Dan penyebab utama negara berkembang tidak terlalu peduli pada lingkungan karena sebagian besar penduduknya tidak bisa makan?
Bagaimana mereka diharuskan untuk peduli ketika orangutan kehilangan habitat ketika rumah mereka sendiri terancam digusur?
Bagaimana mereka peduli pada nasib ikan hiu martil yang mati terjerat jaring, ketika sirip si hiu martil bisa untuk menghidupi keluarga mereka hari itu?
Bagaimana mereka peduli pada nasib beruang kutub yang kebingungan karena es tempatnya berpijak mencair akibat pemanasan global yang diakibatkan oleh asap pabrik, sementara pabrik tersebut merupakan sumber utama mereka mencari makan selama 7 generasi?
Manusia dan lingkungan….apa memang tidak bisa sejalan?
